Tradisi permintaan maaf dalam budaya Jepang

0 24

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tradisi permintaan maaf dalam budaya Jepang – Ada apa dengan maaf? Dalam bahasa Indonesia, bila kita ingin mengutarakan penyesalan atau meminta pengampunan kepada orang lain, maka hanya satu kata yang diucapkan, yaitu “maaf” apa pun kondisinya. Lain halnya dengan bahasa Inggris, paling tidak ada tiga kata yang sering digunakan, yaitu sorry yang digunakan bila mengutarakan rasa simpati dan penyesalan karena sudah berbuat kesalahan, pardon me dan excuse me, bila kita akan meminta pengulangan misalnya karena kurang jelas, mengganggu seseorang, atau berbuat salah yang tidak disengaja.

Lalu bagaimana halnya dengan bahasa Jepang? Kata-kata maaf yang diucapkan orang Jepang selalu menunjukkan suatu konteks yang sangat mendalam maknanya karena sebagai suatu cara untuk mengekspresikan berbagai perasaan dan kondisi hati bila seseorang itu memiliki rasa penyesalan. Ungkapan permintaan maaf ini dalam penggunaannya akan berbeda sesuai dengan perasaan, kondisi, dan kepada siapa permintaan maaf itu dilakukan. Ini adalah suatu cara bangsa Jepang untuk membedakan nilai rasa dan kedalaman rasa penyesalan itu. Kita mungkin tidak pernah memperhatikan persoalan seperti itu karena dalam konteks bahasa Indonesia kata ‘maaf’ tidak memiliki nilai rasa yang berbeda dalam situasi apa pun.

5 cara permintaan maaf dalam budaya Jepang

1. Gomen

Gomen arti yang sebenarnya adalah, mengijinkan, melepaskan, menghentikan. Sedangkan nasai adalah kata untuk menyatakan permintaan, dalam bahasa Inggris seperti please. Maka bila dilihat secara etimologis, kata ini berarti ‘tolong lepaskanlah, tolong ijinkanlah, tolong hentikanlah’. Apa yang dimaksud dengan permintaan itu semua, maksudnya adalah bahwa seseorang yang meminta maaf itu sebenarnya ingin mengemukakan, bila itu suatu kesalahan dan membuat Anda marah, maka tolong lepaskanlah kemarahan itu, tolong hentikanlah kemarahan itu, atau bila kesalahan itu membuat sedih, maka tolong lepaskanlah kesedihan itu, tolong hentikanlah kesediahan itu, dan seterusnya, ini adalah salah satu cara orang Jepang untuk mengungkapkan perasaan menyesal karena rasa bersalah.

Dalam pengungkapannya, Gomennasai sering digunakan untuk meminta maaf karena merasa menyesal telah berbuat suatu kesalahan baik yang disengaja atau pun yang tidak disengaja.

2. Gomen kudasai  (ごめんなさい)

Kata ini sama dengan gomen nasai, bedanya kudasai berarti ‘meminta’. Ungkapan ini lebih sopan daripada gonmen nasai. Selain itu bisa juga digunakan pada saat kita berkunjung ke rumah orang lain, seperti kata ‘permisi!’, ‘spada!’, ‘assalamualaikum!’

3. Sumimasen (すみません)

Sumimasen berasal dari bentuk positif kata kerja sumu artinya ‘selesai’, sedangkan sumimasen adalah bentuk negatifnya, maka dapat diartikan menjadi ‘tidak selesai’. Lalu apa kaitannya dengan ungkapan rasa ‘maaf ‘ itu sendiri. Sesungguhnya orang Jepang ingin mengatakan apa yang dilakukannya terus menerus membuat orang terganggu, dan tidak selesai-selesai juga, makanya mengatakan ‘tidak selesai’. Sehingga ungkapan ini sering digunakan untuk meminta maaf karena mengganggu, membuat mitra wicara tidak nyaman. Nuansa makna yang dikandung menekankan suatu ungkapan permohonan maaf dengan rasa hormat. Misalnya seorang mahasiswa yang mengganggu pembimbingnya dan meminta maaf, atau seseorang yang ingin mengganggu untuk menanyakan alamat, atau meminta maaf karena mau lewat dan sebagainya.

4. Shitsurei shimasu (しつれいします/失礼します)

Arti yang sebenarnya dari kata ini adalah ‘melakukan hal yang tidak sopan’, ‘berbuat tidak sopan’. Maksudnya adalah ‘maaf kalau saya tidak sopan tapi bagaimanapun saya akan mengganggu Anda’, ‘maaf atas ketidaksopanan saya’. Ungkapan ini digunakan untuk menyatakan permintaan maaf karena sesuatu yang ditakutkan telah berbuat tidak sopan atau tidak berkenan di hati mitra wicara. Misalnya saat kita akan masuk atau meninggalkanruangan setelah mengganggu orang lain.

5. Osore irimasu (恐れ入りますが)

Arti yang sebenarnya dari kata ini adalah ‘saya merasa takut’, ‘ditakutkan kalau’. Ungkapan ini mengandung nuansa makna untuk menerangkan perasaan hormat terhadap mitra wicara dan pembicara merasa khawatir kalau-kalau mitra wicara memiliki rasa yang berlebihan atas perlakuan pembicara itu. Misalnya kita ingin meminta mitra wicara untuk melakukan sesuatu dengan rasa hormat.

Osore irimasu ga, kochira ni onamae o onegai itashimasu.

(Maaf, tolong namanya di sini)

6. Moushi wake gozaimasen (申し訳ありません)

Moushi artinya ‘mengatakan’, wake artinya ‘alasan’, dan gozaimasen artinya ‘tidak ada’, maka bila diterjemahkan secara harfiah berarti ‘tidak ada alasan untuk mengatakan’. Apa kaitannya dengan permintaan maaf? Orang Jepang mengutarakan ungkapan seperti ini karena merasa takut tidak mampu memenuhi keinginan mitra wicara, sehingga ia meminta maaf. Misalnya seorang customer menelepon pihak hotel dan meminta disambungkan ke Mr. Tanaka, tetapi ternyata Mr. Tanaka belum check in, maka staff hotel akan mengatakan,

Moushi wake gozaimasen ga, Tanaka sama wa mada chekku in sarete irasshaimasen.

(Maaf, Pak Tanaka belum check in)

Namun dalam konteks apabila kata ‘maaf’ ini sebagai kata benda, maka yang digunakan adalah kata yurushi. Berarti kalau ‘meminta maaf’, ‘meminta ampunan’, bahasa Jepangnya adalah yurushi o kou. Jadi misalkan kita ingin meminta maaf seperti kalimat berikut;

Dia bersimpuh di tanah dan meminta maaf kepada Tuhan.

(Kare wa chimen de hizamazuite Kami no yurushi o kou)

Ekspresi permohonan maaf yang beraneka ragam seperti ini menunjukkan bahwa bangsa Jepang memiliki nilai-nilai yang cukup kompleks untuk dipahami oleh bangsa di luar Jepang dalam hal pengungkapan rasa penyesalan. Bagi orang Jepang sendiri hal semacam ini bukanlah suatu masalah karena memiliki sama rasa. Bagaimana pun dari sini kita bisa belajar dari satu sisi karakteristik bangsa Jepang bila kita ingin melakukan bekerjasama dan lain sebagainya.

Demikian, artikel tentang Tradisi permintaan maaf dalam budaya Jepang.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments
Memuat...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More